MOROWALI, Sulawesi Tengah - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terus mendorong peningkatan kinerja operasional dengan mengincar tambahan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada tahun 2026. Langkah ini sejalan dengan progres proyek hilirisasi nikel yang saat ini dilaporkan berjalan sesuai rencana atau on-track.
Dalam earnings call yang digelar pada Rabu (8/4/2026), manajemen INCO mengungkapkan bahwa diskusi pelaku pasar berfokus pada upaya menjaga cash cost nikel matte di tengah ketegangan Timur Tengah, peluang kenaikan kuota RKAB dari level 8, 1 juta wet metric ton (wmt), serta progres ekspansi proyek di Pomalaa dan Bahodopi.
Manajemen INCO mengungkapkan bahwa saat ini perusahaan memiliki kuota produksi bijih nikel sekitar 8, 1 juta wet metric ton (wmt). Perseroan optimistis dapat memperoleh tambahan kuota pada pertengahan tahun, yakni sekitar Juni hingga Juli 2026, dengan strategi memaksimalkan produksi serta memanfaatkan peluang realokasi dari perusahaan lain yang tidak mencapai target.
Di sisi efisiensi, INCO menargetkan biaya tunai (cash cost) produksi nikel matte dapat ditekan hingga di bawah US$10.000 per ton pada 2026, relatif sejalan dengan realisasi 2025 sebesar US$9.339 per ton.
Hal ini didukung oleh ketersediaan energi yang memadai, dengan cadangan sekitar dua bulan yang bersumber dari tenaga air, diesel, dan batu bara, serta cadangan sulfur berkisar 33–35 minggu atau sekitar 8–9 bulan sebagai buffer di tengah dinamika global.
Selain itu, INCO juga tengah mengeksplorasi penerapan teknologi OESBF guna mengoptimalkan pemanfaatan bijih saprolit berkadar rendah. Upaya efisiensi lainnya mencakup optimalisasi proses pengeringan pada kiln serta penggunaan kendaraan tambang berbasis listrik (electric vehicle hauling trucks).
Untuk menjaga keberlanjutan operasional di tengah kenaikan harga sulfur global, INCO juga menyiapkan langkah strategis dengan mendiversifikasi sumber bahan baku asam sulfat.
Perusahaan mempertimbangkan penggunaan alternatif seperti pirit, gipsum, hingga asam lain seperti asam klorida. Selain itu, manajemen menilai teknologi HPAL terbaru memiliki potensi untuk beroperasi dengan variasi input sulfur atau jenis asam yang berbeda, sehingga lebih fleksibel dan efisien.
Dalam strategi produksi, INCO mengalokasikan sekitar 5–6 juta wmt untuk bijih saprolit dan sekitar 2 juta wmt untuk limonit. Manajemen memperkirakan cash cost sekitar US$18 per ton (termasuk royalti) untuk blok Bahodopi, sementara biaya di Pomalaa diproyeksikan lebih rendah karena skala yang lebih besar. Perseroan juga mengindikasikan harga jual bijih saprolit yang lebih baik pada kuartal I 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya.
Terkait potensi revisi RKAB pada periode Juni–Juli 2026, INCO akan fokus memproduksi bijih nikel secara optimal sebagai bukti kelayakan untuk memperoleh tambahan kuota, yang diperkirakan berasal dari realokasi penambang yang tidak mencapai target. Untuk mendukung hal tersebut, INCO telah menyiapkan stockpile bijih limonit di Sorowako serta melakukan kegiatan pre-stripping di area tambang.
Sementara itu, dari sisi pengembangan proyek hilirisasi berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL), INCO memastikan seluruh proyek berjalan sesuai jadwal. Proyek di Pomalaa telah mencapai progres pembangunan tambang sekitar 60 persen dan fasilitas HPAL sekitar 53 persen, dengan target operasi pada kuartal III 2026.
Adapun proyek Bahodopi menunjukkan perkembangan signifikan dengan progres tambang hampir rampung atau sekitar 99 persen. Sementara fasilitas HPAL telah mencapai sekitar 21, 5 persen dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2026.
Lebih lanjut, sejumlah proyek lanjutan juga telah disiapkan untuk dieksekusi lebih cepat pada 2027 dan telah dimasukkan ke dalam rencana belanja modal (capital expenditure/capex) perusahaan.
Dalam struktur investasinya, INCO diketahui berperan sebagai pemegang saham minoritas di seluruh proyek HPAL tersebut. Kepemilikan di proyek Bahodopi telah final, sementara untuk proyek Pomalaa dan Sorowako masih berupa opsi yang belum dieksekusi.
Dengan perkembangan ini, INCO menegaskan komitmennya dalam memperkuat hilirisasi industri nikel nasional sekaligus meningkatkan kapasitas produksi secara berkelanjutan.
Keberhasilan dalam memperoleh tambahan kuota RKAB serta penyelesaian proyek tepat waktu diyakini akan menjadi faktor kunci dalam mendorong kinerja perusahaan ke depan.

Updates.